Harga Beras Naik, Rakyat Tercekik! Benarkah Lumbung Padi Kita Sedang Paceklik?

 

“Kenapa harga beras terus naik dan rakyat tercekik”

Pertanyaan ini sering bergelantungan di benak kita, terlebih lagi kita adalah negara yang subur dimana pertanian seharusnya menjadi komoditas utama. Termasuk padi. Pada kenyataannya, kita seolah mati di lumbung sendiri mendapati harga beras yang terus naik.

Kenapa Harga Beras Terus Melambung?

Secara sederhana kalau dalam bahasa ekonomi, naiknya sebuah barang itu diakibatkan jumlah permintaan yang lebih tinggi dari pada ketersediaannya. Atau biasa disebut dengan Supply and Demand. Supply berarti hukum penawaran, sementara Demand artinya hukum permintaan. Dalam hukum ini ada lagi satu istilah yang dikenal kurva equlibrium. Nah, equlibrium ini terjadi apa bila ada persetujuan antara konsumen dan produsen tentang harga barang.

Lalu, apa hubungannya dengan naiknya harga beras?

Dari sini kita bisa menarik kesimpulan tentang naiknya harga kebutuhan pokok ini. Artinya kebutuhan beras di negara kita terus naik, tapi ketersediaan barang tidak mampu memenuhi permintaan pasar.

Kalau jaman dulu, saat dalam era almarhum Presiden Soeharto, pemerintah menerapkan yang namanya Floor Price (Harga Terendah) dan Celling Price (Harga Tertinggi. Tujuan mereka menerapkan sistem ini adalah untuk melindungi produsen dan konsumen sekaligus.

Ketika harga dasar sudah ditetapkan, tentunya pemain harga seperti makelar dan tengkulak tidak bisa main-main beli harga terendah dari petani. Disamping itu, pemerintah justru melarang menjual harga besar terlalu rendah agar bisa dijangkau oleh masyarakat.

Selain Floor Price dan Celling Price, ada lagi satu hal yang kerap diandalkan oleh pemerintah, yaitu Raskin. Raskin ini menjadi senjata ampuh pemerintah sebagai equlibrium. Dalam hal ini BULOG akan menerima beras sebanyak-banyaknya dari pasar kemudian menjualnya kembali dengan sebutan RASKIN.

Nah, fungsi RASKIN ini nantinya yang akan menyetabilkan harga saat para pedagang curang bermain harga. Ketika tiba-tiba beras sangat mahal, maka pemerintah mengeluarkan operasi pasar sehingga barang akan banyak di pasaran. Makanya dalam hal ini cukong tidak berani bermain harga. Buat apa?

Mungkin inilah kenapa ketika harga beras mahal, pemerintah langsung turun tangan melakukan operasi pasar. Seperti juga kasus garam mahal kemarin. Pemerintah harus impor garam demi meredam harga.

Sayangnya, sekarang RASKIN ini dihapus karena dianggap kurang efektif dan akan digantikan dengan voucher. Semoga saja voucher ini menggantikan peran RASKIN dalam menekan harga.

Benarkah Rakyat Tercekik dengan Kenaikan Harga Beras?

Logikanya, orang Indonesia tidak ‘afdol’ kalau tidak makan nasi. Apa pun lauknya, pasti orang Indonesia bakal merasa kenyang bila dimakan dengan nasi. Bahkan untuk mie instan sekali pun.

Inilah akarnya. Karena nasi sudah jadi kebutuhan utama. Sudah masuk dalam relung, jiwa hingga alam bawah sadar masyarakat di sini. Asal ada nasi, makan dengan garam pun jadi! Begitu ungkapannya.

Maka ketika beras naik, tentu saja harga lainnya akan ikut naik demi memenuhi kebutuhan terhadap nasi ini. Sederhananya seperti itu. Bahkan hal ini akan terasa bila hidup di lingkungan anak kos yang notabene sering beli makanan. Contoh ringan saja ketika beras dan cabai naik. Maka harga lalapan pun juga ikut naik untuk menutupi modal usaha. Harga akan terus naik ke atas. Begitu pula sebaliknya.

Kembali lagi ke RASKIN yang berfungsi sebagai senjata pemerintah dalam menyetabilkan harga. Pemerintah tentu harus memikirkan ini masak-masak, apakah akan benar-benar menggantinya dengan voucher. Serta, diakui atau tidak, lumbung padi Indonesia sudah mulai menipis. Saatnya pemerintah kembali menggalakkan pertanian di seluruh wilayah demi ketahanan pangan.

Rasa-rasanya rindu dengan berita produksi padi melimpah dan kita adalah pengekspor beras terbesar di dunia. Bukan begitu?